Janda di Sarfat diberkati karena percaya kepada Allah

Janda di Sarfat dberkati

Janda di Sarfat diberkati karena mendengarkan firman Allah melalui Nabi Elia, ia dengan taat melakukan apa yang diperintahkan Elia kepadanya. Percaya kepada janji Tuhan di masa-masa yang sulit memang tidak mudah, hanya iman yang mampu membuat seseorang bergantung kepada Allah.

Percakapan Nabi Elia dengan seorang janda di Sarfat ini cukup menyentuh hati kita, karena dia adalah seorang yang miskin dan tidak memiliki persediaan makanan.

Firman Tuhan mengatakan: ”Demi Tuhan , Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli (1 Raj. 17:12a).

Raja-raja 17:12b juga menuliskan: “Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Dalam percakapan tersebut, perempuan tersebut berkata dengan jujur kepada abdi Allah tersebut, ia sedang berada dalam kesusahan dan kelaparan.

Elia berkata kepadanya: ”Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku. Kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu (1 Raj. 17:13).

Seorang janda yang tidak memiliki cadangan makanan dengan taat melakukan perintah sang nabi, meskipun ia berpikir besok ia akan mati kelaparan.

Persoalan makanan dan minuman sering kali membuat seseorang menjadi lemah dan jatuh kepada berbagai pencobaan, sehingga mengambil keputusan yang salah. Marilah kita renungkan sejenak firman Tuhan dari kitab 1 Raja-raja 17:12-16.

Janda di Sarfat diberkati oleh Allah

Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati, hal ini memang benar. Akan tetapi, janda di sarfat diberkati karena ia taat dan mendengarkan perkataan sang nabi.

Tidak ada usaha yang berarti yang dilakukan untuk mengubah hidupnya, yang dimilikinya hanyalah iman dan percaya saja.

Perlu untuk dipahami bahwa terkadang Tuhan juga menguji iman sampai kepada titik terendah, di mana kita benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa.

Artinya, kita benar-benar hanya memiliki iman saja kepada Allah. Kita sedang diajar untuk peka dan mendengar suara-Nya. Jika saat ini kalian pernah berada pada posisi ini, maka Tuhan sedang menyatakan kuasa-Nya kepadamu.

Kisah janda di Sarfat (1 Raja-Raja 17:12-16)

    Dalam pembacaan Firman 1 Raja-Raja 17:12-16 diketahui bahwa janda di Sarfat sangat miskin, ia hanya memiliki segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli.

    Bahkan janda itu berkata, setelah makan ia dan anak-anaknya akan mati karena sudah tidak ada persediaan makanan lagi.

    Ini sangat logis sekali, karena Ia hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak di dalam buli-buli. janda itu tidak uang dan juga tidak memiliki persediaan makanan .

    Meskipun demikian, janda itu mendengarkan perkataan Abdi Allah itu (Elia) untuk membuat sepotong roti bundar kecil dan memberikannya kepadanya.

    Apakah janda sarfat itu percaya kepada janji Allah dan pemeliharaan-Nya? Inilah yang menjadi renungkan kita hari ini. Bagaimana di dalam kemiskinannya, ia berbagai roti kepada nabi Elia.

    Setiap orang yang ingin sukses dan berhasil membutuhkan kerja keras dan perjuangan. Pernyataan ini memang benar, namun jangan pernah meninggalkan Tuhan.

    Tetaplah percaya bahwa Tuhanlah yang mengangkat dan memberikan semua keberhasilan tersebut.

    Ketika sudah tidak bisa melakukan apa-apa dan semua cara telah dilakukan dan tetap gagal, maka di saat-saat seperti inilah biasanya mereka percaya kepada kuasa Allah.

    Namun anak-anak Tuhan tidaklah demikian, dalam segala hal kita percaya dan bergantung penuh kepada kuasa dan pemeliharaan-Nya.

    Sebagai contoh, Alkitab menceritakan seorang janda di Sarfat diberkati dan dipakai oleh Tuhan secara ajaib untuk memberi makan Nabi Elia. Allah memberkati keluarga janda tersebut melalui nabi Elia.

    Kisah orang Gerasa yang kerasukan setan

      Kisah orang Gerasa yang kerasukan setan dan disebuhkan oleh Tuhan Yesus menjelaskan betapa besar kasih-Nya kepada umat-Nya (Mark. 5:1-20). Orang itu setiap hari berkeliaran di kuburan dan di bukit-bukit, dan tidak ada seorang pun yang bisa menjinakkannya.

      Setiap rantai yang digunakan untuk mengikatnya telah diputuskan, sehingga tidak ada yang berani lagi untuk datang dan mengikatnya.

      Roh jahat itu sangat kuat dan telah menguasai orang gila tersebut. Namun ketika Yesus datang, orang itu berlari dan menyembah kepada-Nya.

      Lalu Yesus menyembuhkan orang gerasa yang kerasukan itu, sehingga banyak orang takjud dengan apa yang dlakukan oleh Yesus.

      Ada banyak kisah dalam Alkitab yang menceritakan tentang mukjizat-mukjizat yang ajaib terjadi karena iman atau karena kasih anugerah semata sehingga mereka ditolong oleh Allah.

      Pada prinsipnya, Tuhan bisa menolong siapa pun dengan berbagai cara berdasarkan kemurahan dan kasih karunia-Nya. Namun banyak orang selalu mengalami kekuatiran, kecemasan dan juga ketakutan.

      Adakalanya banyak orang yang putus asa, karena menghadapi persoalan yang begitu pelik dan sangat sulit.

      Dalam masa-masa seperti ini, apakah kita masih bisa percaya kepada janji dan pemeliharaan Allah? Ini menjadi pertanyaan dan juga renungan pribadi bagi semua orang percaya.

      Respon dalam menghadapi masalah

        Janda di Sarfat diberkati karena ia tidak marah atau pun merespon dengan kata-kata yang tidak baik kepada Elia. Ia adalah perempuan yang murah hati dan mau berbagi roti untuk Elia.

        Memang ini sangat sulit untuk dipercaya, tetapi Alkitab menuliskan kisah ini untuk menjadi pelajaran yang berharga bagi orang-orang percaya saat ini.

        Meskipun ia tahu bahwa besok ia akan mati karena tidak memiliki makanan, ia mendengarkan suara Abdi Allah itu. Ada beberapa alasan mengapa perempuan ini melakukannya dengan murah hati.

        Dalam 1 Raja-Raja 17:12a terlihat jelas bahwa dia adalah perempuan yang benar dan saleh karena perkataannya yang jujur “Demi Tuhan Allahmu yang hidup.”

        Perempuan ini mengenal siapa Elia dan siapa Tuhannya, dan Ia juga percaya bahwa Allah banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib dan besar. Ia sangat murah hati, maka Tuhan memberkati dan memakai dirinya untuk memberi makanan kepada Nabi Elia.

        Tuhan mengenal hati dan kehidupan dari janda di sarfat ini, sebab tidak serta-merta Allah memilihnya untuk memberi makanan kepada Elia.

        Meski di masa-masa yang sulit, ia berkata jujur kepada Elia dengan bersumpah ” Demi Tuhan Allahmu yang hidup.”

        Setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda ketika menghadapi berbagai persoalan maupun masalah yang sedang dihadapinya.

        Pada umumnya, kedewasaan iman sangat menentukan sekali dalam memberikan respon terhadap masalah apapun.

        Bagaimana jika anda berada pada posisi janda di Sarfat? Apakah anda akan melakukan hal hal yang sama, atau lebih mengutamakan keluarga dan diri sendiri.

        Dapatkah di masa-masa sulit kita berbagai? Biarlah dengan berbagai persoalan yang ada, kita semakin percaya kepada janji dan pemelihara Allah.

        Percaya kepada janji Allah: Ada berkat dibalik kesetiaan

          Alkitab selalu menuliskan kisah-kisah yang menakjubkan dan juga sangat teologis. Alkitab mencatat ada banyak kisah orang-orang yang setia dan bertahan dalam kesusahan, yang pada akhirnya diberkati oleh Tuhan.

          Kisah janda di Sarfat diberkati oleh Allah menjadi contoh kita pada hari ini. Ketika menghadapi masa-masa sulit dan kelaparan ia tetap murah hati dan baik.

          Iman seperti ini sangat sulit ditemukan di Israel pada waktu itu. Dalam beberapa pengajaran Tuhan Yesus, iman yang luar biasa justru ditemukan pada orang-orang kecil atau pada orang-orang miskin.

          Beberapa kali Tuhan Yesus menyebutkan bahwa imanmu menyelamatkanmu. Setia dalam menghadapi berbagai cobaan dan penderitaan memang tidak mudah, banyak orang yang jatuh ketika mendapat percobaan ini.

          Alkitab juga memberikan contoh, bahwa ada orang-orang yang tetap setia meski mereka sangat kesulitan dan menderita.

          Ayub pernah mengalami penderitaan yang luar biasa, karena kehilangan anak-anaknya dan juga mengalami penyakit.

          Bandingkan juga dengan Janda di Sarfat yang mendengarkan perintah Abdi Allah meski ia sendiri miskin dan kesusahan.

          Masih banyak kisah-kisah heroik dari orang-orang yang beriman dan percaya kepada janji Allah di dalam Alkitab.

          Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang ini? Apakah kisah-kisah dalam Alkitab tersebut membuat iman kita bertumbuh atau justru sebaliknya?

          Artikel ini mengajak umat Tuhan di mana pun dan kapan pun untuk selalu bergantung dan percaya kepada janji dan pemeliharaan Allah.

          Ulangan 7:12-16 menjelaskan bahwa jika bangsa Israel setia kepada peraturan-peraturan Allah dan tidak menyimpang, maka mereka akan diberkati secara berlimpah-limpah.

          Demikian juga dalam kehidupan orang-orang percaya. Allah akan memberkati umat-Nya apabila mereka hidup dengan setia dan menaati segala perintah-perintah-Nya.

          Related posts