Eutanasia menurut Iman Kristen: pendalaman Alkitab!

eutanasia
Ilustrasi gambar
12.png

Eutanasia berasal dari kata Yunani “eu” berarti baik dan “thanatos” yang berarti kematian, istilah ini digunakan untuk kematian yang bahagia atau kematian tanpa rasa sakit. Mati secara sengaja dan tanpa rasa sakit tentu tidaklah dibenarkan menurut iman kristen, karena mencabut nyawa adalah wewenang Allah sendiri.

Meskipun demikian, karena alasan penderitaan, sakit-penyakit dan alasan lain ada orang-orang yang secara sengaja menghendaki kematian sebelum waktunya. Tentulah hal ini menimbulkan pro dan kontra.

Misalnya setelah Nazi Jerman, ada negara Belanda dan Swiss mengijinkan Eutanasia. Warga negaranya diperbolehkan untuk melakukan bunuh diri dengan bahagia atau kematian tanpa rasa sakit melalui bantuan dokter. Asalkan hal itu adalah keinginan diri sendiri dan memiliki alasan yang yang dianggap tepat, maka hal ini diperbolehkan.

Memandang Eutanasia dari perspektif Iman Kristen

Bunuh diri dengan bahagia atau keatian tanpa rasa sakit memang menjadi persoalan di kalangan kekristenan sendiri. Bagi gereja-gereja injili tentulah menolak perbuatan bunuh diri seperti ini. Akan tetapi, golongan liberal tentulah sepakat dengan hal ini. Karena eutanasia bertujuan untuk menolong orang-orang yang menderita karena sakit atau karena alasan lainnya supaya mati dengan bahagia.

Orang-orang yang setuju dengan kematian tanpa rasa sakit menganggap bahwa pada akhirnya semua pasti akan mengalami kematian, sehingga eutanasia bertujuan membantu mempercepat kematian. Di dalam Taurat Musa memang ada perintah-perintah untuk memberikan hukaman mati, tetapi hal ini ada alasan-alasan yang jelas.

Misalnya Yosa 7:1-26 yang berbicara mengenai dosa Akhan karena melanggar perjanjian dengan Allah, sehingga Israel kalah dalam berperang. Dalam konteks ini, peristiwa itu hanya terjadi pada waktu itu. Artinya bahwa dosa Akhan telah membawa kekalahan dalam perang, sehingga banyak yang tewas karena pelanggaran Akhan. Akibatnya Akhan juga di hukum mati dengan dilempari dengan batu.

Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus juga tidak berkenan kepada orang-orang Yahudi yang hendak melempari batu perempuan sundal (Yoh. 8:1-11). Lalu Yesus mengatakan bahwa “barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu pergilah satu-persatu orang-orang Yahudi itu.

Beberapa rujukan ayat Alkitab di atas menunjukkan bahwa kehidupan dan kematian memang milik Tuhan. Apakah diperbolehkan seorang kristen dengan sengaja mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri atau melakukan eutanasia?

Perspektif Iman Kristen mengenai eutanasia atau bunuh diri

Kitab Suci menuliskan di dalam keluaran 20:13 demikian, “Jangan membunuh.” Perintah ini dengan jelas menunjukkan bahwa hanya Allah yang berdaulat atas kehidupan manusia. Ini adalah perintah yang harus ditaati, sehingga dalam keadaan apapun mereka dilarang untuk membunuh sesama manusia.

Lebih lanjut Ayub juga mengatakan bahwa “Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil” (Ay. 1:21). Alkitab dengan jelas menuliskan bahwa Tuhanlah yang memberikan kehidupan (Kej. 1:27), sehingga hanya Dialah yang berhak mengambilnya (Ibr. 9:27).

Membunuh secara sengaja tidak dapat dibenarkan sama sekali, meskipun orang tersebut menghendaki kematian. Membunuh orang yang sakit parah adalah perbuatan yang keji, karena firman Allah tidak pernah mengajarkan demikian. Tuhan Yesus juga mengajarkan supaya kita saling mengasihi, yaitu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Mat. 22:39).

Eutanasi bertujuan untuk mengakhiri segala penderitaan dengan kematian, sedangkan Alkitab banyak mengajarkan mengenai arti dan maksud dari penderitaan. Misalnya Yusuf dijual oleh saudara-saudara kepada orang Ismael dan di bawa ke Mesir. Kurang lebih 13 tahun Yusuf hidup menderita sebagai budak dan juga di dalam penjara.

Namun penderitaan itu bertujuan mulia, bahwa Allah telah mempersiapkan Yusuf menjadi orang nomor dua di Mesir supaya tetap memelihara kelangsungan hidup keluarganya dari bahaya kelaparan pada masa itu. Penderitaan juga dialami oleh Ayub, ia kehilangan anak-anak, kekayaan dan juga mengalami sakit yang parah.

Yusuf dan Ayub menjadi contoh bahwa penderitaan dan sakit-penyakit adalah bagian dari kehidupan. Melalui penderitaan tersebut, Allah akan menyatakan kemuliaan-Nya kepada mereka berdua. Hal ini terlihat dari akhir kisah mereka berdua, Tuhan memberkati mereka secara berlimpah-limpah dan mereka adalah orang yang berkenan kepada Allah.

Jadi, alasan penderitaan dan sakit penyakit atau alasan-alasan lain juga tidak dapat dibenarkan untuk melakukan bunuh diri dengan bantuan dokter.

Apa arti kehidupan menurut Alkitab?

Daud mengatakan bahwa di dalam kandungan ibuku Engkau telah membentuk dan menenun aku di dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur karena kejadianku dahsyat dan ajaib, ajaib apa yang Allah telah buat dan Daud benar-benar menyadarinya (Mzr. 139:13-16).

Kitab Mazmur menjelaskan bahwa kejadian dan kelahiran manusia itu terjadi sangat ajaib, bagaimana Allah sendiri yang telah menenun dan membentuknya. Hal ini juga disampaikan di dalam Kitab Kejadian 1:26, bagaimana manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah.

Kata Ibrani tselem (tseh’-lem) di terjemahkan dalam bahasa latin menjadi “Imago Dei” yang diartikan menjadi segambar atau secitra dengan Allah. Kata ini tentu memiliki makna yang luar biasa, karena manusia diciptakan sangat unik dan berbeda dengan makhluk ciptaan yang lainnya.

Karena segambar dan serupa dengan Allah maka manusia diciptakan dengan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara otonom dan bertanggung jawab. Sehingga manusia dapat bertanggung jawab dalam mengelola bumi dan segala isinya kepada Allah.

Namun kemampuan tersebut juga bisa disalah-gunakan untuk tidak taat kepada Alah, misalanya ketika Adam dan Hawa memilih memakan buah yang dilarang oleh Allah. Memilih untuk melakukan eutanasia juga merupakan pilihan untuk tidak taat kepada Allah.

Bukan hanya itu saja, manusia juga bertanggung jawab atas segala perbuatannya yang dilakukan secara dasar dan sengaja kepada Allah. Entah itu baik atau buruk, semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Oleh sebab itu, hidup adalah anugerah Allah. Apabila kita sampai hari ini boleh ada sebagaimana kita ada, maka semua adalah karena kasih Allah semata. Penting sekali untuk memahami hal ini, supaya kita tidak mengambil keputusan-keputusan yang salah di masa depan.

Kesimpulan

Uraian di atas setidaknya bisa memberikan sedikit informasi mengenai sikap Iman Kristen terhadap kematian yang disengaja melalui berbagai cara. Banyaknya pendapat yang mengatakan bahwa manusia memiliki hak untuk menentukan pilihannya sendiri mengenai kematiannya memang sangatlah kontroversial.

Alkitab dengan jelas menolak pendapat tersebut. Bahkan “Kitab Suci” tidak pernah membenarkan menyambut nyawa sesama manusia secara sengaja ataupun tidak sengaja dengan memberi perinah yang jelas “Jangan membunuh.” Sehingga hanya Allah yang berdaulat terhadap nyawa atau kematian seseorang.

Penderitaan, sakit-penyakit dan masalah adalah bagian dari perjalanan hidup seseorang, sehingga tidak ada alasan untuk melakukan bunuh diri. Lukas 16:22-23 menjelaskan mengenai kematian orang kaya dan Lazarus yang miskin. Selanjutnya matilah Lazarus yang miskin itu dan dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Lalu matilah juga orang kaya itu lalu di kubur dan ia menderita sengsara di alam maut.

Lukas 16:19-30 memberikan gambaran dan penjelasan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Karena akan ada kehidupannya yang selanjutnya, yaitu di sorga dan neraka. Kehidupan kita saat ini hanyalah perjalanan dan bersifat sementara, sehingga jangan pernah menganggap bahwa dengan melakukan bunuh diri maka semuanya akan selesai.

Related posts