Perintah untuk tidak menghakimi: Renungan Matius 7:1-5

menghakimi

Perintah untuk tidak mengkami dicatat di dalam Matius 7:1-5, bagaimana ayat tersebut memberikan konsep dan pengertian tentang hal menghakimi. Pada umumnya setiap orang lebih mudah untuk menghakimi dan menyatakan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh sesamanya, tetapi kesalahannya sendiri disembunyikan.

Mengapa menyatakan kesalahan orang lain lebih mudah dari pada menunjukkan kesalahan diri sendiri? Hal ini memang menjadi persoalan dan masalah yang memang sulit untuk dipecahkan. Ada sebuah kecenderungan dari sifat manusia yang sudah tercemar dengan dosa, yaitu tidak mau mengakui kesalahan.

Read More

Hal ini ditunjukkan dengan jelas melalui kisah Adam dan Hawa di taman Eden. Ketika Adam ditanya mengapa engkau memakan buah yang Aku larang? Adam tidak mengakui kesalahannya, tetapi menunjuk kepada Hawa yang memberikan kepadanya. Demikian juga Hawa, ia tidak mau mengakui kesalahannya dan menyalahkan ular yang telah memperdayanya.

Peristiwa tersebut memberikan gambaran bahwa manusia sangat sulit mengakui kesalahannya dengan jujur, tetapi lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain. Renungan hari ini mengajak kita semua untuk membaca firman Tuhan dari Matius 7:1-5 mengenai hal menghakimi. Marilah kita membacanya dengan seksama dan dengan penuh ketaatakan, supaya

Perintah untuk tidak menghakimi

Perintah untuk tidak menghakimi disampaikan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada orang-orang yang munafik. Mereka adalah para pemimpin agama Yahudi yang berbuat seolah-olah seperti orang benar, tetapi hidup dan perbuatan mereka tidak berkenan kepada Allah. Mereka juga selalu memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain dan menghakimi sesamanya.

Tuhan Yesus mengatakan bahwa, “mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak engkau ketahui?” (Mat. 7:23). Di sini nyata sekali bahwa orang-orang munafik selalu memperhatikan kesalahan-kesalahan sesamanya dengan maksud untuk merendahkan dan menghakimi mereka.

Orang-orang munafik seperti ini tentulah selalu ada di mana-mana, sehingga sebagai anak-anak Tuhan kita harus berhati-hati apabila bertemu dengan mereka.

Jangan pernah berdebat dengan orang-orang munafik, karena sama saja dengan perumpamaan yang mengatakan “melempar mutiara ke dalam lumpur.” Artinya bahwa berbicara dengan orang-orang munafik tidaklah berguna dan sia-sia, karena mereka tidak pernah mengerti dan tidak mau mengerti mengenai kebenaran.

Perintah Tuhan Yesus

Tuhan Yesus dengan gamblang dan jelas menyampaikan supaya janganlah kamu saling menghakimi, supaya kamu sendiri jangan dihakimi (Mat. 7:1). Ayat ini memberikan penegasan mengenai sikap yang harus diambil oleh anak-anak Allah kepada saudara-saudara kita yang melakukan kesalahan.

Tuhan mengajarkan supaya kita tidak menghakimi, melainkan menolong supaya mereka dapat bangkit dan bertobat. Menghakimi tidaklah menyelesaikan permasalahan, tetapi kasih sebagai seorang saudara akan membawa kedamaian dan sukacita.

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita bertindak seperti teladan yang Tuhan Yesus berikan di dalam Kitab Suci. Anak-anak Allah harus menegur dan menasehati dengan kasih, supaya mereka yang bersalah tidak mengulangi kesalahannya lagi. Karena-orang yang menghakimi sesamanya dengan ukuran tertentu, maka Allah akan melakukan hal yang sama kepadanya.

Teguran dan nasehat jauh lebih penting dari pada menghakimi kesalahan orang lain. Karena mereka yang melakukan kesalahan dan perbuatan dosa sedang tersesat dan membutuhkan pertolongan. Sehingga sudah sepatutnya kita menolong mereka dan membimbing kepada jalan yang benar, karena hal itulah yang dikehendaki oleh Allah.

Penerapan/aplikasi

Perintah untuk tidak menghakimi sesama memang cukup sulit untuk dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari, karena lebih banyak orang suka menghakimi sesamanya. Bahkan perilaku-perilaku seperti juga ditunjukkan kepada pemimpin-pemimpin rohani di dalam gereja.

Mereka lebih mudah menyatakan kesalahan-kesalahan orang lain dari pada melihat kesalahan-kesalahan dirinya sendiri. Tindakan-tindakan seperti ini sangat banyak ditemui dilingkungan tempat kerja atau dilingkungan tempat kita tinggal.

Oleh sebab itu, firman Tuhan hari mengingatkan supaya kita tidak saling menghakimi satu sama lain, melainkan saling menegur dan saling mengingatkan di dalam kasih. Sehingga bukan perselisihan yang terjadi, melaikan persahabatan dan persaudaraan di dalam kasih Kristus.

Melakukan hal ini memang tidaklah mudah, tetapi percayalah bahwa kuasa Roh Kudus akan menuntun dan memampukan kita semua untuk melakukan hal itu. Bergantung dan membangun persekutuan dengan-Nya akan membuat hidup kita semakin bertumbuh dan berbuah, sehingga kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.

Related posts