Cinta kuat seperti maut, nyalanya seperti nyala api Tuhan!

Cinta kuat seperti maut
12.png

Kitab Kidung-Agung 8:6 mendeskripsikan cinta itu kuat seperti maut, kegairahannya seperti dunia orang mati, nyalanya seperti nyala api TUHAN. Cinta adalah perasaan sayang terhadap lawan jenis, misalnya perasaan sorang pria kepada wanita ataupun sebaliknya.

Ayat tersebut memberikan gambaran dan juga penjelasan bahwa cinta itu memiliki kekuatan yang hebat karena kekuatan seperti nyala api Tuhan.

Cinta yang salah bisa sangat berbahaya sekali karena memiliki kekuatan seperti nyala api dan bisa membakar dan menghancurkan.

Cinta kuat seperti maut bermaksud untuk menjelaskan dari kekuatan dan kedahsyatan cinta itu sendiri. Karena secara umum kita sering menyebutnya cinta buta.

Mengapa demikian? Ada banyak kasus seseorang bisa menjadi buta dan tidak bisa berpikir secara akal sehat atau familiar disebut dengan “cinta memang gila.”

Mengapa cinta kuat seperti maut?

Tidak ada alasan yang jelas mengapa raja Salomo menggambarkan kekuatan cinta secara demikian, kemungkinan hal ini berdasarkan pengalamannya yang memiliki istri dan gundik yang banyak.

Bagaimana Salomo jatuh cinta kepada banyak wanita dan menjalin hubungan asmara dengan mereka.

Salomo juga memiliki banyak istri dari bangsa-bangsa lain, yang pada akhirnya membuat dia mencondongkan hatinya kepada ilah-ilah istrinya.

Kemungkinan tujuan Salomo adalah untuk mengajar anak-anak muda supaya berhati-hati dalam menggunakan cinta, karena kegairahannya sangat gigih.

Apabila cinta tidak digunakan dengan benar, maka bisa merusak dan menghancurkan masa depan anak-anak muda.

Cinta yang salah bisa menyebabkan pertengkaran, seks di luar nikah, saling membenci dan ada yang sampai membunuh pasangannya sendiri.

Pada prinsipnya cinta adalah sesuatu yang suci dan kudus, karena pemberian Allah. Namun keberadaan manusia yang berdosa sering kali membawa manusia kepada pilihan-pilihan dan perbuatan yang salah.

Sehingga cinta tersebut tidak memiliki sasaran yang tepat dan justru digunakan utuk tujuan dan maksud memuaskan hawa nafsu saja.

Kekuatan cinta seperti nyala api

Perhatikan Kidung-Agung 8:6 yang menuliskan kekuatan cinta seperti maut dan kegairahannya gigih seperti dunia orang mati.

Ayat ini dapatlah dipahami secara sederhana, di mana perasaan jatuh cinta itu memiliki sebuah kekuatan yang dahsyat dan bisa membuat seseorang melakukan apa pun demi cinta.

Apabila yang dilakukan tersebut adalah hal-hal yang positif, maka hal itu bukanlah masalah. Misalnya  saling menolong, saling berbagi dan saling menyayangi.

Namun apabila yang dilakukan itu berujung kepada mengatur, membatasi ruang lingkup pasangannya atau melakukan kekerasan maka itu bukanlah cinta yang benar.

Orang-orang yang seperti ini bisanya akan melakukan apa saja yang ia kehendaki atas nama cinta, padahal yang ia lakukan itu bukanlah cinta.

Oleh sebab itu, pemuda-pemudi Kristen harus bisa membedakan mana cinta yang benar dan mana cinta yang salah.

Air yang banyak tidak dapat memadamkan cinta

Kidung Agung 8:7 menuliskan demikian: “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.

Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.”

Perhatikan ayat tersebut dengan seksama, kekuatan cinta juga di gambarkan semakin dahsyat. Karena kekuatannya dahsyat maka air yang banyak tidak dapat memadamkan dan sungai tidak dapat menghanyutkannya.

Teks tersebut ingin menjelaskan bahwa cinta itu memiliki kekuatan yang dahsyat seperti bom nuklir ya, “hehe.”

Jika sudah cinta maka bisa melakukan apa saja dan tidak peduli akibatnya, sehingga pemuda-pemudi Kristen harus memahami hal ini.

Cinta yang salah bisa membawa kepada perbuatan dosa. Misalnya seks bebas, kekerasan, pertengkaran, permusuhan dan juga pembunuhan.

Berhati-hatilah dalam membangun hubungan cinta kasih, jangan membangunnya dengan nafsu dan keegoisan.

Pembelajaran hari membawa kepada pemahaman mengenai betapa pentingnya membangun hubungan yang sehat dan benar.

Cinta yang benar selalu didasari oleh kasih yang tulus, menjaga kesucian dan juga tanpa pamrih, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Semoga pembahasan ini memberikan manfaat dan juga peringatan supaya bisa menempatkan cinta dengan benar.

Artinya adalah menempatkan cinta sesuai yang diajarkan oleh firman Tuhan, Tuhan Yesus memberkati.

Related posts